Semenjak ChatGPT rilis di tahun 2022, dunia rasanya berputar cepet banget. Tiba-tiba banyak rilisan AI A, B, C dan D. Bahkan sampe sekarang, AI ini udah berkembang banget jadi bisa dipake banyak hal, dari tanya-tanya informasi umum, riset konten, edit gambar, buat video, sampe ke delegasi tugas tertentu misalnya coding, analisa data dan lain-lain. Beberapa tugas tadi yang dibantu oleh AI, pastinya akan memangkas waktu dan tenaga sehingga kita bisa jadi fokus ke hal lainnya, seperti pekerjaan lain, olahraga, istirahat dan lain-lain. Kita tinggal kasih instruksi, semunya langsung dikerjain dan tinggal tunggu hasil. Setelah terbiasa dengan workflow seperti itu, kamu pernah ngerasa “bodoh” nggak ketika ngerjain tugas tapi dibantu AI ?

Aku sendiri pernah ngalamin, ketika coding dibantu AI. AI ngebantu banget contohnya pas solving error, buat boilerplate, buat komponen dan sebagainya. Tapi giliran coding tanpa AI, aku kadang ngerasa nge-blank. Bahkan untuk ngerjain hal simpel pun. Sampai akhirnya aku yakin, selama ini aku pakai AI dengan cara yang salah dan mungkin kamu juga.

Disclaimer : Artikel ini ditulis berdasarkan pendapat dan pengalaman pribadi

Kenapa Bisa Salah ?

1. Malas

Kita hidup di zaman teknologi yang semuanya serba cepat dan mudah, contohnya mau makan tapi mager masak dan keluar rumah ? tinggal order Go-Food, mau nonton film atau series tapi males nonton sampe akhir ? tinggal nonton di youtube konten review atau ringkasan, aplikasi nonton video juga didominasi dengan fitur short video yang durasinya kurang dari 3 menit. Semuanya serba instan, sehingga jadi pemicu kuat timbulnya rasa malas dan ketergantungan.

Cara mengatasinya sebenernya simpel, secara teori. Kita lawan rasa malas tentunya dengan tetap berpikir. Otak jika sering digunakan berpikir maka akan meningkatkan kemampuannnya. Nantinya, bisa dirasakan dampaknya dalam kehidupan sehari-hari.

2. Menganggap AI selalu benar

Saking canggihnya AI yang bisa melakukan banyak hal, mungkin beberapa orang lupa bahwasanya AI dibuat dan dikembangkan oleh manusia menggunakan jutaan atau bahkan miliaran data saat proses training. Manusia pun tidak pernah lepas dari kesalahan, begitu juga dengan AI. Terkadang, AI memberikan respon yang ambigu dan halu. Maka dari itu, tetap diperlukan kontrol supaya respon AI sama dengan output yang diinginkan.

3. FOMO

Ngeliat di sosial media, banyak orang mulai beralih menggunakan AI. Dan akhirnya kita mulai menggunakan AI tanpa mempelajari ilmu dasarnya, hal ini bisa berdampak terhadap kualitas output yang dihasilkan. Kurang lebih seperti ini :

InputOutput
Buatkan gambar seorang pria berusia 20 tahun mengenakan jas hitamGambar seorang pria usia 20 tahun mengenakan jas hitam lokasi (random) pose (random) style (random)
Buatkan gambar seorang pria indonesia berusia 25 tahunan, berkulit putih, berambut hitam lurus, mengenakan jas hitam, sedang duduk di kursi ruangan kantornya sambil menelfon. Style retro futurismGambar sesuai output (minim kesalahan)

Hal ini berlaku untuk semua hal, dari generate image, video, coding, copywriting dan lain-lain. Semakin detail prompt atau instruksi yang diberikan, maka akan semakin bagus output yang akan dihasilkan. Untuk memberikan prompt atau instruksi yang detail dan bagus, kita tetap perlu mempelajari ilmu dasar sesuai bidang yang sedang dikerjakan.

Kesimpulan

Bukan AI yang bikin kita jadi bodoh, tapi cara kita yang salah dalam menggunakan Ai dapat membuat kita menjadi bodoh.